Selasa, 29 Juni 2010

PUASA

1. Pengertian Puasa
Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, “Rasullah SAW bersabda,
لا تقدموا رمضان بصوم يوم ولا يومين الارجل كان يصوم صوما فليصمه.
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka hendaklah ia berpuasa”.

Ash-shiyam (puasa) dari segi bahasa artinya الا مساك (menahan). Misalnya, صام عن الكلام (ia telah berpuasa dari berbicara) makanya jika ia menahan diri darinya. Senada dengan firman Allah yang berbunyi:
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah”(Maryam: 26)
Adapun الصيام (puasa) menurut syari`at adalah menahan diri dari makanan, minuman, jima’ dan seluruh hal yang membatalkan lainnya diwaktu siang dengan berniat mendekatkan diri kepada Allah.
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan”, artinya janganlah kalian bepuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan lantaran mengambil sikap hati-hati jika bulan Ramadhan terikat dengan ru’yah (terlihat atau tidaknya bulan di awal bulan) atau dengan menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.
Kalimat “Kecuali ada seorang”. Dan lafazh Imam al-Bukhari berbunyi:
الا انيكون رجل dan kata يكون di sini merupakan fi’il yang tammah sempurna (cukup dengan fa’ilnya dan tidak membutuhkan khabar) yang bermakna ada.
Ia memiliki kebiasaan puasa sebelumnnya yang bertepatan dengan hari, tersebut, maka tidak masalah baginya untuk berpuasa selama ia tidak bermaksud berpuasa untuk mengantisipasi kedatangan bulan Ramadhan.
Rasullah melarang mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari guna menepis bisikan syaithan, rekayasa dan tipu dayanya seperti yang telah berhasil ia lakukan terhadap umat-umat manusia terdahulu sampai mereka berpuasa sebelum waktu yang diwajibkan dan akhirnya mengeluarkan mereka dari waktu yang telah ditentukan, dan memperdayai mereka dan iblis berhasil meyakinkan persangkaannya pada mereka sehingga saling mengikutinya. Oleh sebab itu, syari`at Islam telah mengikat puasa Ramadhan dengan ketentuan yang jelas, yaitu dengan melihat bulan atau menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari demi menjaga keutuhan syari`at, yang Allah tidak akan menghapusnya sampai Dia menghapus malam, siang, matahari dan bulan.
Meskipun demikian, masih saja terjadi sebagian orang yang mengikuti hawa nafsunya mendahului Ramadhan dengan puasa untuk mengantisipasinya seperti halnya mereka mengakhiri waktu Maghrib sampai bintang bertebaran dengan dalih untuk kehati-hatian menurut mereka. Dan Allah telah menjaga Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari semua itu.
Al-Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya:
باب قول النبي صلى. اذا رايتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا وقال صلة عن عمار من صام يوم الشك فقد عصى ابا القاسم صلى.
“Bab sabda Nabi SAW. Jika kalian melihat bulan, maka berpuasalah dan jika kalian telah melihatnya, maka berbukalah. ‘Shilah berkata dari Ammar, ‘barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah durhaka kepada Abul Qasim SAW.
Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I, ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim telah menyambungkan sanadnya melalui jalan Amr bin Qais dari Abu Ishaq, dan lafaznya menurut mereka:
كنا عند عمار فأتي بشاة مصلية فقال كلوا فتنحى بعض القوم قال اني صائم فقال عمار من صام يوم الشك.
“Kami pernah berada bersama Ammar bin Yasir. Ia datang dengan membawa seekor kambing panggang, lalu berkata, “Makanlah kalian!”. Maka sebagian orang menjauh dan mengatakan, “Saya sedang berpuasa.” Maka Ammar berkata,”Barangsiapa yang berpuasa pada hari keraguan.
Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah dan lainny berbunyi:
من صام اليوم الذي يشك فه فقد عصى ابا القاسم.
“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan sungguh dia telah bermaksiat terhadap Abul Qasim SAW.
Al-Hafizh bekata, “Hadits ini dijadikan landasan atas haramnya puasa di hari keraguan karena seorang shahabat tidak akan mengatakan hal tadi dari pendapatnya sendiri. Sehingga hadits tersebut termasuk hadits marfu’. Ibnu Abdil berkata, “Hadits ini adalah musnad menurut mereka, dalam hal ini mereka tidak berbeda pendapat. Orang yang menyelisihi mereka adalah al-Jauhari al-Maliki. Ia berkata,“Hadits ini adalah mauquf (perkataan seorang shahabat).”Dan untuk menyanggahnya, hadits ini memang lafazhnya mauquf tapi statusnya marfu’secara maknanya.”
Sedangkan Lafazh Abu Daud dalam kitab Sunannya, ia berkata, “Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami (ia berkata) Abu Khalid al-Ahmar telah memberitakan kepada kami dari Amr bin Qais dari Abu Ishaq dari shilah, ia berkata:
كنا عندعمار في اليوم الذي يشك فيه فأتى بشاة فتنحى بعض القوم فقال عمار من صام هذا اليوم فقد عصى ابا القاسم صلى.
“Kami pernah bersama Ammar bin Yasir pada hari yang diragukan kemudian ia dating dengan membawa daging kambing. Sebagian orang menyingkir. Maka Ammar berkata,“Barangsiapa yang berpuasa pada hari ini, maka ia telah bermaksiat kepada Abul Qasim SAW”.
Dari Ibnu Umar ra, ia berkata, “aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
اذا رايتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فاقدروا له.
“Jika kalian telah melihatnya (awal bulan Ramadhan), maka berpuasalah, dan jika kalian telah melihatnya (awal bulan syawal), maka berbukalah. Apabila terhalangi atas kalian, maka perkirakanlah (hitungan)nya.”
Hadits ini merupakan prinsip penting dari prinsip-prinsip kemudahan dalam syari`at Islam dan penghapusan kerumitan dari kaum muslimin. Meskipun puasa merupakan salah satu rukun dari rukun-rukun Islam, Allah tidak mengharuskan kaum muslimin menjalankan puasa kecuali dengan melihat bulan atau menyempurnakan hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Hal ini tidak hanya bias diketahui oleh bangsa tertentu saja, tanpa diketahui golongan lainnya, juga tidak diketahui dalam suatu kota tertentu saja, tanpa dikenal di kota lainnya.

Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa ada seorang badui dating kepada Nabi SAW dan berkata:
إني رأيت الهلا، فقال: أتشهد أن لا اله إلا الله؟ فال: نعم، قال: أتشهد أن محمدا رسول الله؟ قال: نعم، قال: فأذن في الناس يا بلال أن يصوموا غدا.
“Sesungguhnya aku telah melihat bulan. Lalu beliau bertanya,”Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain Allah? ‘Ia berkata, “ya”. Beliau bersabda: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?”, ia berkata, “ya”. Rasulullah bersabda: “Umumkanlah kepada orang-orang, wahai Bilal agar mereka perpuasa besok. ‘Diriwayatkan oleh Imam yang lima dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan an-Nasa’i menguatkan status mursalnya.

Dan menurut riwayat ad-Daruquthni,
لا صيام لمن لم يفرضه من الليل.
“Tidak sah puasa orang yang tidak berniat semenjak dari malam”
Dari Aisyah ra. Ia berkata,
قال لي رسول الله صلى. ذات يوم: يا عائشة هل عند كم شيء قالت فقلت يا رسول الله ما عندنا شيء قال فإني صائم قالت فخرج رسول الله صلى. فأهديت لنا هدية أو جا عنا زور قالت فلما رجع رسول الله صلى. قلت يا رسول الله اهديت لنا هدية أو جاءنا زور وقد خبأت لك شيئا قال ما هو قلت حيس قال هاتيه فجئت به فأ كل ثم قال قد كمت اصبحت صائما.
“Pada suatu hari, Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Aisyah apakah engkau memiliki suatu makanan? Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki suatu makanan,” Beliau berkata, “Kalau begitu aku akan berpuasa.” Ia berkata, Rasulullah lalu keluar. Kemudian kami diberi hadiah berupa sebuah hadiah, atau dating kepada seorang peziarah,. Ketika Rasulullah SAW telah kembali aku katakana, “wahai Rasulullah, dihadiahkan kepada kami suatu hadiah atau dating kepada kami seorang peziarah dan aku telah menyimpannya sebagian untukmu. Beliau berkata, “Apa itu?”. Aku katakana, “Hais (kue kurma).” Beliau berkata. “Berikan kepadaku. “Maka aku bawakan kepadanya, lalu beliau memakannya dan bersabda, “Pagi ini, sebenarnya aku ingin berpuasa.”
Al-Bukhari telah membuat judul dalam kitab Shahihnya berkaitan dengan bolehnya berniat puasa sunnah di waktu siang dengan judul با ب إذا نوى النهار صوما (Bab jika berniat puasa di waktu siang). Ummu ad-Darda’ berkata, “Abu ad-Darda’dulu pernah berkata, “apakah kalian memiliki makanan?.” Jika kami katakana tidak, ia berkata, “kalau begitu aku akan puasa pada hariku ini.” Dan hal ini juga dilakukan oleh Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Hudzaifah ra. Lalu al-Bukhari berkata, Abu Ashim telah memberitakan kepada kami dari Yazid bin Abu Ubaid dari Salamah bin al-‘Akwa’ra,
ان النبر صلى. بعث رجلا ينا دي في الناس يوم عا شورء ان من اكل فليتم او فليصم ومن لم ياكل فلا ياكل.
“ Bahwasanya Nabi SAW telah mengutuskan seseorang yang mengumumkan di tengah manusia pada hari Asyura: Barangsiapa yang telah makan hendaknya menyempurnakan atau puasa dan barangsiapa yang belum makan maka hendaknya ia tidak makan (berpuasa).
Adapun niat berpuasa di bulan Ramadhan, maka dalam masalah ini, tidak ada hadits yang shahih yang mengharuskan memulai niat pada setiap malam. Sudah memadai untuk merealisasikan sabda Rasulullah: انما الاعمال باالنيات (sesungguhnya amalan tergantung pada niatnya) dengan menyiapkan dirinya ketika telah ditetapkan bulan Ramadhan untuk berpuasa selama sebulan. Dan tidak ada tuntunan atas setiap muslim untuk melafazkan nia. Akan tetapi, tempat niat adalah dalam hati, diiringi dengan tekad yang kuat untuk melaksanakannya. Pada asalnya, setiap muslim wajib taat kepada perintah-perintah Allah yang berupa puasa dan tidak ada yang mengeluarkannya dari hokum asal ini, kecuali jika ia berniat kuat untuk tidak berpuasa sejak malam hari, atau dalam keadaan ragu-ragu.
Adapun seseorang yan gmelakukan hal haji dan umrah yang sunnah, maka ia wajib untuk menyempurnakan apa yang telah ia ucapkan dalam talbiyah karena firman Allah,
“Dan sempunakanlah haji dan umrah karena Allah. (al-Baqarah: 196)

Rasulullah SAW telah bersabda,
لا يز ال الذين ظاهرا ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون.
“Ágama ini akan senantiasa Berjaya selama kaum muslimin menyegerakan buka puasa, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirinya.”
Selain ahli bid`ah meniru mereka (Yahudi dan Nasrani), yang tidak berbuka puasa di bulan Ramadhan sampai bintang-bintang menjadi bertebaran dan mengakhirkan buka puasa menjadi slogan aliran mereka.
Abu Daud dan an-Nasa’I telah meriwayatkan dan lafazh milik Abu Daud dengan sanad yang ditengarai hasan dari hadits al-Irbadh bin Syariyah ra. Ia berkata,
دعاني رسول الله صلى. الى السحور في رمضان فقال هلم الى الغداء المبرك.
“Rasulullah SAW telah mengajakku untuk makan sahur pada bulan Ramadhan, seraya berkata, ‘Kemarilah untuk menuju makanan yang berkah itu.”
Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa makan sahur adalah yang membedakan antara puasa orang-orang Islam dan puasa orang-orang Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Muslim telah meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari hadits Amr bin al-Ash, bahwa Rasulullah bersabda,
فصل ما بين صيامنا وصيام اهل الكتاب اكلة السحر.
“Pemisah (pembeda) antara puasa kita dan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya dengan lafazh ini dan diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata,
احتجم النبي صلى. وهو صائم.
“Nabi pernah berbekam ketika beliau sedang berpuasa”
Al-Bukhari berkata, “Disebutkan dari Sa’ad, Zaid bin Arqam dan Ummu Salamah bahwa mereka melakukan bekam dalam keadaan berpuasa. Bukair berkata dari Ummu Alqamah, “kami pernah melakukan bekam di samping Aisyah dan kami tidak dilarang.” Akan tiba tambahan pengkajian materi tentang orang yang berpuasa yang melakukan hijamah (bekam) pada hadits setelah hadits Ibnu Abbas ini,
ان رسول الله صلى. اتى على رجل بالبقيع وهو يحتجم في رمضان. فقال: أفطر الحا جم والمحجوم.
“Bahwasanya Rasulullah SAW pernah dating kepada seseorang di Baqi’ dan ia sedang melakukan bekam di bulan Ramadhan. Maka beliau bersabda, ‘Batal (puasa) orang yang melakukan bekam dan yang dibekam.”
Pada riwayat al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas ra.
ان رسول الله صلى. خرج الى مكة في رمضان فصام حتى بلغ الكديد افطر فأفطر الناس.
“Bahwasanya Rasulullah SAW keluar ke makkah pada bulan Ramadhan. Beliau berpuasa sampai mencapai daerah al-Kadid. Dan di situ beliau membatalkan (puasanya). Maka orang-orang ikut membatalkannya”
Al-Bukhari berkata, al-Kadid adalah mata air yang terletak antara Usfan dan Qudaid. Dan pada lafazh al-Bukhari dan Muslim yang lain dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah pernah dari Madinah menuju Makkah dan berpuasa sampai mencapai Usfan. Lalu beliau meminta air, mengangkatnya ke depannya guna memperlihatkannya kepada orang-orang. Kemudian beliau membatalkan (puasanya).
Tidak ada di antara riwayat-riwayat ini perbedaan yang tajam. Karena tempat-tempat ini yaitu Kura’al Ghamim, al-Kadid dan Usfan saling berdekatan dan yang paling dekat ke Madinah adalah al-Kadid sehingga boleh menisbatkan tempat pembatalan (puasa) kepada masing-masing tempat-tempat itu karena saling berdekatan.

Kesimpulan
1. Diperbolehkan membatalkan puasa bagi musafir meskipun ia telah menjumpai permulaan bulan Ramadhan saat masih di kediamannya.
2. Bahwasanya menjadi keharusan bagi seorang musafir membatalkan puasa jika diperintahkan oleh pimpinan untuk suatu kemaslahatan.
3. Sepantasnya bagi seorang pemimpin untuk bersikap kasih sayang kepada bawahannya dan menghilangkan kesulitan dari mereka.
Dari Hamzah bin Amr al-Aslami, ia berkata,
يا رسول الله صلى ! اجد بي قوة على الصيام في السفر فهل على جناح؟ فقال رسول الله صلى. هي رخصة من الله، فمن اجد بها فحسن ومن احب ان يصوم فلا جناح عليه.
“Wahai Rasulullah, aku kuat utnuk berpuasa dalam perjalanan. Apakah aku berdosa? Rasulullah SAW bersabda, “itu merupakan keringanan dari Allah. Barangsiapa mengambilnya, itu adalah baik. Dan barangsiapa yang mau berpuasa, maka tidak ada dosa atas dirinya.” Diriwayatkan Muslim dan asalnya dalam muttafaqun ‘alaih dari hadits Aisyah bahwa Hamzah bin Amr bertanya kepada Nabi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar